tukanggambar.com

Full width home advertisement

Our Project

Portfolio

Post Page Advertisement [Top]

Aljabar, salah satu cabang ilmu matematika ini barangkali jadi momok bagi orang yang tak menyukai pelajaran hitung menghitung. Prinsip keseimbangan dalam matematika yang memakai simbol-simbol yang kompleks ini merupakan buah tangan para ilmuan seperti ibnu Al-Qalasadi sejak 600  tahun lalu. Ia mewarisi notasi dalam ilmu hitung modern.

Ibnu Al-Qalasadi bernama lengkap Abu Al-Hasan ibnu Al-Qalasadi, ia ilmuan muslim yang namanya tersohor sebagai matematikawan. Ia lahir pada 1412 di Bastah, Andalusia, sebuah wilayah yang kini menjadi bagian dari Spanyol. Hidupnya dilalui saat perperangan berkecamuk, tapi ia tak pernah berhenti untuk belajar dan menimba ilmu. Buah ketekunan Qalasadi, dunia matematika kini mengenal simbol-simbol ilmu hitung modern yang masih dipakai sampai sekarang. Ia berkontribusi menciptakan simbol aljabar menggunakan huruf Arab pendek berupa penambahan, pengurangan, perkalian hingga pembagian.

Qalasadi dalam banyak catatan sejarah sebagai orang pertama menggunakan simbol-simbol aljabar yang kini digunakan dalam penulisan persamaan notasi pecahan dan juga ilmuwan pertama yang menggunakan simbol saat membahas dan menulis sebuah persamaan dalam ilmu matematika. Adam Malik Khan dalam “Al-Qalasadi: An Eminent Mathematician of Muslim Spain”, Islamic Studies, menjelaskan bagaimana Qalasadi menggunakan simbol matematika dengan menggunakan huruf arab.

Ia mengunakan “Wa” yang berarti “Dan” untuk penambahan ( ), kemudian “Laa” melambangkan pengurangan (-), “Fi” untuk perkalian dan “ala” untuk simbol pembagian (/). Selain itu, ia juga menggunakan simbol “j” melambangkan akar. “Shay” melambangkan variable (x), “m” melambangkan kuadrat (X2), Huruf “k” melambangkan pangkat tiga (x3) dan terakhir “I” sebagai simbol persamaan atau sama dengan (=).

Simbol-simbol itu juga kemudian banyak dikembangkan ilmuwan dari Eropa. Misalnya untuk simbol penambahan, disinyalir belum muncul pada abad ke-15 dan hanya simbol pengurangan yang sudah digunakan dalam karya Leonardo Fibonanci pada 1202. Simbol penambahan justru terdapat dalam manuskrip karya Regiomontanus pada 1456. Kemudian simbol penambahan muncul di Inggris dalam buku Ground Of Artes dan baru diakui terhitung sejak 1630.

Julio Samso Moya, Profesor Emeritus dari Universitas Barcelona pernah menulis, bahwa para penulis di abad ke-19 percaya, simbol-simbol aljabar pertama kali dikembangkan dalam Islam, oleh seorang Muslim termasuk Ibnu Al Banna dan Al Qalasadi. Moya menyebut kelangkaan simbol-simbol ilmu matematika di Italia misalnya, bisa jadi disebabkan karena ketidaktahuan para ilmuan di negara itu seperti Fibonanci terhadap karya-karya hebat dari ahli matematika asal Andalusia.

Mengembangkan Penemuan Al Banna
Simbol-simbol aljabar pertama kali dikembangkan Ibnu Al Banna, seorang ahli matematika dari Andalusia pada abad ke-14, kemudian lambang-lambang itu modifikasi kembali oleh Al Qalasadi pada abad ke-15. Karya Al Banna berjudul Talkhis A'mat al-Hisab, mendefinisikan pecahan sebagai pertautan antara dua bilangan untuk menunjukkan satu atau beberapa bagian. Hubungan antara bagian dan bilangan itu kemudian menghasilkan nama yang sama dan disebut pecahan.

Al Qalasadi kemudian mengembangkan karya Al Banna, ia meletakkan pembilang di atas penyebut dan memisahkan keduanya dengan garis horisontal. Alasannya, bagi Al Qalasadi pecahan itu adalah sesuatu yang baru pada masa itu. Untuk menjelaskan sebuah pecahan, Al-Qalasadi kemudian menggunakan pernyataan "ala ma'sihi" yang berarti "tempatkan di atasnya" dan "mafawk al-khatt" yang berarti "yang ada di atas garis". Ia juga mengembangkan kelima jenis pecahan yang dibahas oleh para ahli matematika dari Arab.

JJ O'Connor dan EF Robertson pernah menulis soal Al Qalasadi, selain mempelajari ilmu matematika, pelajaran pertama yang diperoleh AL Qalasadi di tanah kelahirannya, adalah ilmu hukum dan Al Quran. Ia kemudian pindah ke selatan, ketika perang berkecamuk dan hijrah di Granada. Di kota itu, Al Qalasadi kemudian mempelajari  filsafat dan hukum. Ia kemudian juga dikenal sebagai ahli ilmu filsafat dan hukum.

Manuela Marin dalam The Making Of Mathematician menulis, Al Qalasadi banyak menghabiskan waktunya di Afrika Utara dan Tlemcen, sebuah daerah di barat laut Aljazair dekat perbatasan Maroko. Di tempat ini, ia banyak belajar ilmu aritmatika dan juga aplikasinya. Di sini lah Al Qalasadi kemudian mengembangkan temuan simbol-simbol aljabar Ibnu Al Banna. Ia banyak menulis buku-buku mengenai aritmatika dan aljabar, beberapa di antaranya berisi komentar-komentar terhadap karya Ibnu al-Banna berjudulTalkhis Amal al-Hisab (Ringkasan dari Operasi Aritmatika).

Salah satu judul bukunya yang banyak mengadopsi pemikiran Al Banna adalah al-Tabsira fi'lm al-Hisab (Klarifikasi Ilmu Berhitung). Meski sudah disederhanakan oleh Al Qalasadi, tapi buku ini butuh ketajaman pikiran bagi mereka yang mempelajarinya. Buku ini pun menjadi salah satu buku paling sulit dipelajari oleh orang kebanyakan.

Al Qalasadi, selain dikenal sebagai “profesor aljabar”, ia juga orang pertama yang menulis buku untuk menjelaskan aturan aljabar dalam puisi. Selain itu, ia juga menulis sembilan buku tentang tata bahasa dan tradisi Nabi Muhammad dan ilmunya kemudian diturunkan kepada Abu Abdullah Al Sanusi. Ia adalah salah satu anak didik Al Qalasadi yang berhasil menciptakan 26 karya matematika dan astronomi yang diakui sebagai teks otoritatif di seluruh Afrika Utara.

Al Qalasadi dalam banyak buku babon sejarah menghembuskan napas terakhirnya pada 1 Desember 1486. Setelah ia meninggal pada 1492, Granada, tempat ia menimba kemudian jatuh ke tangan pasukan dipimpin Ferdinand dan Isabella. Perebutan wilayah itu juga membawa pemusnahan naskah Islam dan Yahudi. Naskah-naskah itu dibakar termasuk karya Al Qalasadi.

Penulis: Arbi Sumandoyo
Artikel ini disadur dari Tirto.id

Bottom Ad [Post Page]

| Designed by Colorlib